× Redaksi Pedoman Media Siber Privacy Policy
Beranda Post Cerita Singkat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Tsunami Aceh

Cerita Singkat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Tsunami Aceh

SHARE
Cerita Singkat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Tsunami Aceh

Cerita Singkat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Tsunami Aceh

-Kemarin, tepatnya 9 September 1949, bagi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mantan Presden RI ke-6 itu merupakan hari bersejarah karena pada tanggal bulan dan tahun itu beliau dilahirkan di sebuah Desa Tremas Arjosari, Pacitan, Jawa Timur.

Pendiri dan Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat (PD) Pusat ini sangat peduli dan humanis dalam kehidupannya sehari hari.Kesederhanaan dalam sikap dan tindakannya, bijak dalam megambil keputusan merupakan pribadi luhur melekat padanya, demikian pula pada istri tercinta, almarhumah Any Yudhoyono.

Bapak SBY dipilih Rakyat melalui jalur pemilihan umum, berpasangan dengan Bapak Jusuf Kala (JK) dan pemilihan umum itu dimenangkan SBY-JK, mereka dilantik pada 20 Oktober 2004, baru dua bulan memimpin Negara ini, mereka diuji dengan sebuah bencana nasional, Gempa dan Tsunami Aceh tepatnya pada hari Minggu, 26 Desember 2004 sekitar pukul 08.00 WIB, pagi.

Saat gempa tsunami Aceh SBY sedang mengadakan kunjungan di Papua, Informasi musibah nasional itu sangat mengejutkannya, terlebih Ibu Ani yang sangat mencintai nilai-nilai kemanusiaan.Staf khusus Kepresidenan, Dino Patti Djalal, saat itu terus meng up-date perkembangan Aceh, dan melaporkan situasi gempa tsunami kepada Presiden SBY, namun gagal karena jaringan komunikasi tidak berfungsi normal alias lumpuh total, sehingga dalam waktu singkat, SBY memutuskan untuk menyingkat kunjungan di Papua dan harus terbang ke Aceh.

Melalui sebuah rapat darurat Kabinet Terbatas di Jayapura, menyimpulkan bahwa esok pagi-pagi sudah terbang ke Aceh, saat itu SBY bersama Istri dan rombongan menaiki pesawat kepresidenan RJ 85 yang harus singgah di Makassar dan Batam, untuk pengisian bahan bakar tujuan sampai di Lhokseumawe, sedangkan Bapak Yusuf Kala, sudah mendapat intruksi untuk segera ke Banda Aceh.
Tiba di Aceh bersama sejumlah Menteri, kesedihan kian menjadi, airmata SBY dan Istri tercintanya, tak kuasa melihat hancurnya Aceh akibat gempa dan tsunami, rusaknya ribuan rumah warga, sawah ladang, dan mirisnya lebih 200 ribu nyawa melayang, sebuah duka yang amat dalam dan merupakan sebuah bencana nasional.

Kepiawaian seorang Presiden dalam penanganan masalah itu, sangat rumit, karena saat itu Aceh masih dilanda konflik antara RI-Gerakan Aceh Merdeka (GAM).SBY meminta pada semua elemen, untuk berhenti semacam “gencatan senjata”, sementara TNI ditarik dan dihentikan Operasi Di Aceh, tujuannya satu, untuk sama-sama memulihkan keadaan akibat gempa dan tsunami.Selang berkisar delapan bulan tsunami Aceh, pihak RI-GAM capai kesepakatan dalam bentuk MOU Helsinki, tepatnya 15 Agustus 2005.

Sebuah sejarah yang tidak terlupakan Rakyat Aceh akan jasa Bapak SBY, bukan hanya MOU inisiatifnya, namun penanganan bencana nasional hingga rekontruksi rumah-rumah warga, potensi potensi ekonomi Aceh down. Badan Dunia (PBB)cepat tanggap, ratusan NGO turut berduka dan mendukung rehab rekon. PBB memberikan apresiasi, maka pantaslah Presiden SBY mendapat penghargaan UNISDR dari PBB tahun 2011, karena dinilai berhasil dalam penanganan pengurangan risiko bencana.

Jasa SBY sebagai Bapak Perdamaian Aceh dan Istri tercintanya Ani Yudoyono, tetap di kenang sampai kapanpun oleh Rakyat Aceh, mantan Presiden yang memiliki nilai- nilai kemanusiaan tinggi itu kini sudah purna tugas, SBY pensiun dari militer pada 25 Oktober 2000 berpangkat Jenderal TNI.Dan kesedihan SBY belum pupus terlebih setelah istri, dan Ibunda tercinta kembali kepada sang Pencipta. Ani Yudhoyono, dan Ibu Siti Habibah, doa kami semua, dan berbaringlah disana, disisi Allah Tuhan yang memiliki cinta nan Abadi.

Penulis: Hasballah Basyah, email, hasballahbasyah@yahoo.com, HP/WA :081360407429 (dari berbagai sumber)