× Redaksi Pedoman Media Siber Privacy Policy
Beranda Post Miliki Senpi Ilegal, Nahkoda Kapal TB Aquarius III Diamankan Sat Polair Polres Babar

Miliki Senpi Ilegal, Nahkoda Kapal TB Aquarius III Diamankan Sat Polair Polres Babar

SHARE
Miliki Senpi Ilegal, Nahkoda Kapal TB Aquarius III Diamankan Sat Polair Polres Babar

Kapolres Bangka Barat AKBP M Adenan didampingi Kasat Polair IPTU Ferry Gunadi dalam acara konferensi pers.

Bangka Barat, sidaknews.com - Kapolres Bangka Barat AKBP M Adenan didampingi Kasat Polair IPTU Ferry Gunadi dalam acara konferensi pers terkait penangkapan Nahkoda kapal TB Aquarius III karena miliki senjata api ilegal, Sabtu 19 Oktober 2019.

Satpolair Polres Bangka Barat (Babar) berhasil mengamankan MJ (37) warga Kenali Besar Kecamatan Alam Beranjo Provinsi Jambi karena kedapatan membawa senjata api (Senpi) rakitan saat berada di Perairan Karang Berang-Berang selat Bangka, Jumat (18/10/19) sore.

MJ (37) adalah seorang ayah dengan dua orang anak ini bekerja sebagai Nahkoda kapal TB Aquarius III yang membawa batu Split dari Bojo Cilegon ke Dumai Riau.

Kapolres Bangka Barat AKBP M Adenan didampingi Kasat Polair IPTU Ferry Gunadi dalam acara konferensi pers menyampaikan Sat Polair mendapatkan laporan pada saat melakukan patroli laut. Benar saja, ketika digeledah ditemukan Senpi rakitan dengan 15 peluru aktif dan 4 selongsong.

“Pada saat patroli kita dapat info, jadi anggota kita bergerak berdasarkan info, setelah digeledah didapatkan senjata sejenis revolver tapi pelurunya beda, ini pelurunya tajam jarak tembak lebih dari 100 meter,” jelas Kapolres, Sabtu (19/10/19 ) di Gedung Prasetya Catur Polres Babar.

Lanjut Kapolres, dari informasi yang mereka dapatkan, Senpi tersebut didapatkan MJ dari Mesuji Sumatera Selatan dan pihaknya akan melakukan pengembangan.

“20 peluru, empat dipakai untuk tes, dan satu peluru dipakai yang jual. Ini undang-undang darurat, ini sudah lama, jadi semua sudah tau, ancamannya kurang lebih 12 tahun,” ujarnya.

Disamping itu, MJ mengatakan dirinya membeli Senpi tersebut sekitar tujuh bulan lalu dengan harga 2.800.000 rupiah untuk menjaga diri karena sudah beberapa kali dirampok.

“Hidup dilaut keras, pernah dirampok. Jadi untuk persiapan diri. Berlayar sejak tahun 2004, selama berlayar 3 kali dirampok di Selat Durian, Tanjung Datu, dan Tanjung Jabung,” tuturnya. (sanusi)