× Redaksi Pedoman Media Siber Privacy Policy
Beranda Post BPCBA Disinyalir Abaikan Situs Bersejarah di Aceh

BPCBA Disinyalir Abaikan Situs Bersejarah di Aceh

SHARE
BPCBA Disinyalir Abaikan Situs Bersejarah di Aceh

Lokasi komplek makam Syiah kuala Gampong Deah Raya.

Banda Aceh, sidaknews.com - Balai Pemuragan Cagar Budaya Aceh (BPCBA) kurang peduli terhadap Situs bersejarah di Aceh. Hal ini disampaikan oleh Riski salah seorang Draiver kepada media Sidaknews.com Senin (13/01).

Prihal ini sering disampaikan oleh Wisatawan yang berkunjung Aceh, Mereka sendiri sangat prihatin dengan keadaan situs- situs yang mereka kunjungi, banyak peninggalan bersejarah tidak terhiraukan oleh BPCBA.

“Contohnya, Komplek makam Syiah kuala di Banda Aceh, menurut tamu sama sekali tidak terhiraukan dengan sempurna, Wisatawan sendiri sangat memprihatikan.

Apa yang mereka sampaikan Wisatawan kepada saya memang benar jelas demikian, sebagaimana terlihat disekeliling Komplek Makam Syiah kuala memang semak. “Sekeliling Komplek terlihat ditumbuhi semak belukar tanpa adanya pelestarian yang sempurna”. ujar Riski.

Demikian juga situs bersejarah di lokasi tempat lainnya, juga lebih parah “Contohnya, makam ulama di Komplek TPI Lampulo terlihat sama sekali tidak di hiraukan, bahkan banyak makam peninggalan bersejarah yang lainnya juga bernasib sama, mestinya BPCBA selaku penanggung jawab pemugaran Situs benar-benar peduli Situs yang bernilai sejarah (red.historis) peninggalan dimasa kejayaan Kerajaan Aceh, Sultan Iskandar Muda.

“Terus terang, saya selaku putra Aceh Timur berprofesi supir antar jemput tamu (Draiver) malu ketika di sampaikan oleh Wisatawan Aceh kurang tersentuh perhatian terhadap situs-situs bersejarah, padahal Aceh terkenal dengan beragam sejarah sehingga membuat kami penasaran, oleh karena itulah kami datang ke Aceh untuk melihat secara langsung, ternyata setelah kami melihat sunguh memprihatin sekali, kenapa pihak yang membidangi mengabaikan. “terang salah seorang tamu manca Negara kepada saya pada saat itu”. Terang Riski.

Lebih lanjut. padahal Pemerintah Pusat, melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia setiap tahun alokasikan Miliaran anggaran untuk pemguran situs di Aceh yakni melalui BPCBA, nyatanya sebagaimana kita lihat terkesan kurang kepedulian. Demikian papar Riski. (Dicky)