× Redaksi Pedoman Media Siber Privacy Policy
Beranda sumut IPW Minta KPK Tangkap Oknum Polisi, IMM Sumut Sebut IPW Berlebihan

IPW Minta KPK Tangkap Oknum Polisi, IMM Sumut Sebut IPW Berlebihan

1063
SHARE
IPW Minta KPK Tangkap Oknum Polisi, IMM Sumut Sebut IPW Berlebihan

Zikri Azizan Lubis, Ketua Bidang Hikmah DPD IMM Sumut.

Medan, sidaknews.com - Ketua Presidium Ind Police Watch (IPW) Neta S Pane baru saja mengatakan adanya oknum polisi yang meminta jatah proyek dibeberapa dinas di Padangsidimpuan hingga berujung pemeriksaan.

Menurut Neta pemeriksaan tersebut berujung istri kadis meninggal dunia, Bahkan Neta juga meminta KPK untuk menangkap oknum polisi yang meminta jatah proyek tersebut.

Menyikapi pernyataan kontroversi Neta S Pane itu mengundang kritik dari Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sunatera Utara, IMM menilai apa yang disampaikan Neta terlalu berlebihan.

"Bung Neta ini terlalu berlebihan, pernyataan tentang istri kadis meninggal dunia karna pemeriksaan polisi harus segera di klarifikasi kebenarannya, sebelum bias ditengah masyarakat," Jelas Zikri Azizan Lubis, Ketua Bidang Hikmah DPD IMM Sumut, kepada wartawan Jum'at (18/9/2020)

Pihaknya juga menilai apa yang disampaikan Neta agar KPK menangkap oknum polisi yang meminta jatah proyek adalah narasi kegaduhan yang belum bisa dibuktikan

"Sekelas IPW harusnya berbicara skala makro, mengapa Neta tidak kritik bahwa KPK dinilai lalai deteksi potensi suap Cakada perihal rekomendasi dari parpol untuk 270 daerah dan 9 provinsi se Indonesia," tanya Zikri dengan heran

Padahal, lanjut Zikri, pencegahan korupsi yang kemudian menghambat pembangunan harus dideteksi dari hulu seperti potensi suap antara Calon Kepala Daerah dengan oknum Pimpinan Partai politik.

DPD IMM Sumatera Utara mendesak Neta S Pane agar segera mengklarifikasi terkait meninggalnya istri kadis karna diperiksa polisi, sebelum berujung informasi bohong dan mengakibatkan terjadinya kecurigaan masyarakat terhadap kepolisian.

"Jika tidak benar, bung Neta harus kooperatif meminta maaf sebelum terjadi bias dan timbulnya kecurigaan masyarakat kepada institusi kepolisian," tandasnya.

 Istri Kadis meninggal dunia diduga terkonfirmasi Covid-19


Pada 31 Agustus 2020, puluhan warga silandit, Desa Aek Bayur, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, melakukan aksi penolakan penguburan salah seorang jenazah COVID-19, yang diduga salah seorang istri kadis.

Warga berkumpul di tengah badan jalan untuk melakukan aksi protes penolakan pemakaman jenazah suspek COVID-19, membentangkan spanduk, hingga nekat membakar ban. Saat itu, masyarakat tetap bertahan dan sepakat menolak jenazah dimakamkan di pemakaman khusus COVID-19 yang berada di dekat dengan lingkungan mereka.

Aksi tersebut bisa diredam, setelah Wali Kota Padangsidimpuan, bersama Kapolres dan Dandim 0212/TS, langsung mendatangi dan bertemu dengan masyarakat setempat, agar jenazah yang diduga istri kadis diperbolehkan dikubur di lokasi TPU khusus COVID-19.

Sekretaris Satuan Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Arpan Harapan Siregar menegaskan, kematian istri kadis tersebut diakibatkan positif COVID-19

”Hasil swab dari istri kadis itu positif COVID-19,”ujar Arpan ketika ditemui diruangannya

Ditanya terkait adanya pernyataan Ketua Presidium Ind Police Watch (IPW) Neta S Pane, Arpan tidak mau memberikan keterangan, sebab, tidak kewenangannya.”Itu tidak ada kewenangan saya untuk berkomentar," jelasnya

Seperti diketahui, Walikota Padangsidimpuan Irsan Efendi Nasution, SH menerima kunjungan Ketua Presidium Ind Police Watch (IPW) Neta S Pane pada Jum'at 4 September 2020 pekan lalu

Dalam kesempatan tersebut hadir mendampingi Hadir Sekdako (Letnan Dalimunthe), Asisten III (Hamdan Sukri), Kaban Bapelitbang ( M.Yusar Nasution) dan Kabag Protokol (Nurcahyo). (Tim)