× Redaksi Pedoman Media Siber Privacy Policy
Beranda hiburan, sumut Makam Syekh Papan Tinggi di Desa Penanggahan Barus Ramai Dikunjungi Wisatawan

Makam Syekh Papan Tinggi di Desa Penanggahan Barus Ramai Dikunjungi Wisatawan

513
SHARE
Makam Syekh Papan Tinggi di Desa Penanggahan Barus Ramai Dikunjungi Wisatawan

akam Syekh Papan Tinggi di Desa Penanggahan, Kec Barus Utara, Kabuoaten Tapanuli Tengah, Sumut.

Barus, sidaknews.com - Nafas yang terengah-engah tampak menghiasi sejumlah wisatawan yang naik turun tangga di lokasi pemakaman Syekh Papan Tinggi di Desa Penanggahan, Kecamatan Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), banyak cerita rakyat yang berkembang diarea komplek pemakaman Penyebar Agama Islam Pertama di Sumatera Utara (Sumut) itu.

Ketika sampai di komplek pemakaman, Wisatawan disuguhi ratusan anak tangga dengan tingkat kemiringan lebih kurang 45°, jika ditempuh perjalanan darat untuk menuju komplek makam ini bisa memakan waktu sekitar 7 jam lebih dengan rute hampir 273 Km dari Kota Medan, konon kabarnya jumlah anak tangga di makam tersebut sekitar 700 buah.

Namun jumlah itu jika dihitung selalu berubah-ubah, masing-masing pendaki mempunyai jumlah tersendiri terkait jumlah anak tangga, Wisatawan yang hendak menaiki anak tangga juga harus meluruskan niat khusus untuk berziarah dan mengambil Karomah dari makam Syekh Papan Tinggi, Jika tidak konon kabarnya Wisatawan tak akan pernah sampai ke puncak.

Terlebih lagi jika ada wisatawan yang berani berkata kotor, konon juga akan mendapat Malapetaka seusai pulang dari makam, ditengah perjalanan anak tangga Wisatawan akan disuguhi pemandangan yang begitu menakjubkan, hal itu dikarenakan kondisi perbukitan makam yang langsung menjorok kearah Samudera Hindia.

Setiba diatas makam banyak wisatawan berfoto-foto, ada juga wisatawan yang sekalian berziarah dengan sekedar baca Surat Yasin dan Doa, ada dua makam didalam komplek pemakaman itu, makam yang pertama lebarnya tingginya luasnya sekitar 1,5 x 1,5 meter tanpa tulisan apapun di Batu Nisan, dan makam satunya lagi cukup menyita perhatian, pasalnya panjangnya sekitar 7 meter lebih dengan luas sekitar ½ meter.

Menurut cerita warga setempat makam yang panjang itu merupakan tempat peristirahatan terakhir dari Tokoh Penyebar Islam pertama Syekh Mahmud, bahkan konon ceritanya Syekh Mahmud merupakan saudagar dari Arab Persia itu yang menyebarkan Islam pertama di Indonesia.

Hal itu dikuatkan dengan diresmikannya Tugu Nol penyebaran Islam oleh Presiden Jokowi pada 2017 lalu, di makam panjang itu tertulis ayat Al Quran yang berbunyi, "Fa kullu syai'un halikun illa wajhullah," yang artinya, maka segala sesuatu akan hancur kecuali Za Allah, mengenai kedatangan Syekh Mahmud juga belum diketahui pasti, namun jika dilihat dari corak Nisan dan jenis Kaligrafi yang ditulis diperkirakan sekitar abad ke-7 hingga 9 Masehi.

"Memang menurut cerita nenek moyang kita dahulu disini banyak merantau orang Arab Persia, kalau usia makam (pastinya) gak tahu ya, tapi katanya pada tahun 44 Hijriah lah makam itu sudah ada," ungkap Kiki Damayanti (30), warga yang sudah 7 tahun menjaga komplek pemakaman.

Kiki menambahkan, menurut cerita orang tuanya dahulu alasan kenapa makam di letakkan diatas bukit karena dahulu daratan Kecamatan Barus berupa lautan Samudera Hindia yang luas, namun seiring perkembangan zaman air laut pun menyusut hingga terciptalah Daratan Kecamatan Barus.

Mewakili perawat makam yang lain, dirinya berharap agar Pemerintah memerhatikan komplek pemakaman tersebut sehingga dapat menarik wisatawan.

"Saat ini Wisatawan masih tergolong sedikit, diliburan Idul Adha kali ini penjaga makam yang juga menjajakan minuman dan makanan ringan ini mengaku bisa meraup untung lebih, namun kalau hari-hari biasa lebih sering tutup," katanya. (R/sabar)

VIDEO