× Redaksi Pedoman Media Siber Privacy Policy
Beranda olahraga, tebagsel Petinju Legendaris Asal kota Padangsidimpuan, Binsar Ritonga Aset yang Terlupakan

Petinju Legendaris Asal kota Padangsidimpuan, Binsar Ritonga Aset yang Terlupakan

7697
SHARE
Petinju Legendaris Asal kota Padangsidimpuan, Binsar Ritonga Aset yang Terlupakan

Petinju legendaris yang terlupakan Binsar Ritonga saat dijumpai di kota Padangsidimpuan.

Padangsidimpuan, sidaknews.com - Petinju Legendaris asal kota Padangsidimpuan yang terlupakan Binsar Ritonga (69) Petinju legendaris, kini hanya sebuah kisah yang seolah terlupakan. Meski dimasa mudanya pernah mengharumkan nama Tapanuli Selatan kini Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) pada kejuaraan Tinju Nasional kelas Welter di Medan tahun 1969 dengan memperoleh medali perak.

Pria kelahiran Padangsidimpuan ini tercatat memiliki prestasi gemilang diantaranya pernah mengkampaskan petinju asal Filipina pada ronde ke empat dalam pertandingan Profesional di kota Dumai, Provinsi Riau yang saat itu diselenggarakan dalam merayakan ulang tahun Pertamina.

Bahkan Binsar pernah memukul KO petinju Padangsidimpuan yang memperoleh juara pertama kelas Welter Ringan di Roma, (Itali) pada pertandingan yang berlangsung di Lapangan Basket Kodim Padangsidimpuan. Katanya saat pertandingan itu dia tidak mempunyai lawan tanding, namun oleh panitia menawarkan Rudi Siregar yang baru pulang dari Roma (Itali) untuk menjadi lawannya.

Sedangkan untuk juara pertama kelas Welter tingkat Sumatra Utara Binsar peroleh tahun 1968 yang juga berlangsung di kota Medan, saat itu Binsar masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Guru Olah Raga (SGO) di Padangsidimpuan.

Pertandingan yang tak terlupakannya pada perebutan kejuaraan itu saat mendapat lawan tanding dari Pertina Pangkalan Brandan. Binsar Ritonga menang KO pada ronde ke 3, namun resiko yang dia terima tidak sadarkan diri selama 24 jam dan dirawat di RS Putri Hijau Medan.

Katanya, saat itu sebenarnya dia sudah babak belur dan hampir kalah pada ronde ke 3, akibat dihajar terus menerus oleh lawannya Erwinsyah, namun sisa tenaga yang ada dia gunakan sebagai pukulan terakhir dan berhasil mengkampaskan lawannya. Pada saat penghitungan setelah lawannya tumbang, kata Binsar, dia sudah tidak kuat lagi namun tetap berdiri karena bersandar pada sudut ring.

Saat dijumpai di Warung Kopi dekat Kantor Pos P.Sidimpuan, Jumat (10/1) sore, Binsar Ritonga yang kini menggunakan tongkat sebagai penopang untuk membantunya berjalan mengatakan setelah menggantungkan sarung tinju, dia menjadi pelatih tinju di Sasana Asia Pekan Baru, Riau hingga 1982. Sedangkan sertifikat pelatih dan Wasit Hakim dia peroleh tahun 1980.

Dia berharap pemerintah di Tabagsel memperhatikan para atlit tinju agar generasi penerus olah raga tinju berkembang di daerah itu. Dia juga berharap agar pemerintah memberikan kesejahteraan kepada para atlit berprestasi khususnya tinju.

Petinju legendaris yang berdomisil di jalan tengku umar kelurahan losung, kecamatan Padangsidimpuan selatan, Kota Padangsidimpuan ini berharap agar petinju di Tabagsel, di perhatikan pemerintah karena sepengetahuannya belum ada satu pun petinju di daerah ini di perhatikan pemerintah, terangnya sekali lagi Binsar menyampaikan agar nasib petinju di tabagsel Khususnya kota Padangsidimpuan di perhatikan Pemerintah agar para petinju petinju lain jangan bernasib seperti dirinya yang terpaksa menjadi supir selama 18 tahun sebab bila tidak di perhatikan kesehatan jangan harap ada lagi petinju dari tapanuli bagi selatan khususnya kota Padangsidimpuan.

Seperti kita ketahui Binsar adalah Aset dan seorang petinju legendaris yang terlupakan dan saat ini masih ada satu lagi petinju satu angkatan dengan dirinya yaitu Torang Batu Bara. Katanya nasib mereka dalam menjalani hari tua hampir sama dan sama tidak pernah memperoleh perhatian dari Pemerintah Daerah khususnya kota Padangsidimpuan dan pemprovsu. (sabar)

VIDEO