× Redaksi Pedoman Media Siber Privacy Policy
Beranda sumut Program ketahanan Pangan, Kades Ujung Gurap Ciptakan Prospek Menjanjikan dari Berkebun Ubi

Program ketahanan Pangan, Kades Ujung Gurap Ciptakan Prospek Menjanjikan dari Berkebun Ubi

299
SHARE
Program ketahanan Pangan, Kades Ujung Gurap Ciptakan Prospek Menjanjikan dari Berkebun Ubi

Kades Ujung Gurap Abdurrahim Dalimunte ketika ditemui wartawan di lahan kebun ubinya.

Sidimpuan, sidaknews.com - Setiap orang tentu sudah tak asing lagi dengan makanan ubi kayu. Tetapi ubi kayu tersebut lebih terkenal dengan nama singkong. Ubi kayu merupakan makanan yang banyak disukai dan dikonsumsi masyarakat Indonesia termasuk di kota Padangsidimpuan.

Ubi kayu ini dapat diolah dengan berbagai cara, baik dengan cara digoreng, direbus, maupun dibakar. Selain dengan cara tersebut, ubi kayu dapat disajikan dengan menjadikan keripik singkong, yang saat ini sudah banyak dijual diberbagai supermarket maupun dijajakan keliling.

Dengan kandungan karbohidrat yang tinggi, tak sedikit masyarakat Indonesia yang mengganti nasi menjadi singkong sebagai makanan pokok sehari-hari.

 ladang Ubi milik Kades Ujung Gurap

Karena hal ini, banyak petani yang berlomba-lomba untuk membudidayakan tanaman ubi kayu tersebut serta Merta mendukung program pemerintah dalam hal ketahanan Pangan, Kepala Desa (Kades) Ujung Gurap, Kec Padangsidimpuan (Psp) Batunadua, Abdurrahim Dalimunthe, menciptakan prospek penghasilan yang menjanjikan dari berkebun ubi di lahan 8.000 meter² miliknya.

Terbukti, omset yang bisa diraih dari setiap kali panen atau setiap 10 bulannya yakni, berkisar dari Rp30 hingga Rp33 juta dengan modal awal lahan produktif beserta uang Rp10 jutaan.

Menurut Abdurrahim, berkebun ubi ditengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, merupakan alternatif yang bagus demi menjaga ketahanan pangan. Harga ubi yang hanya Rp1.500 per kilogramnya, dinilai efektif untuk makanan pokok pengganti nasi.

Selama lebih kurang 26 bulan dirinya menggeluti bisnis berkebun ubi, dia mengaku sudah bisa panen dua periode. Untuk periode 10 bulan pertama, dia mengaku bisa menghasilkan panen sebanyak 7 Ton. Sedangkan, untuk periode 10 bulan kedua, pria paruh baya itu bisa meraih panen gemilang dengan capaian 10 Ton.

"Nah, untuk periode 10 bulan ketiga ini, kita targetkan bisa panen 16 Ton. Saat ini, tanaman ubi kita sudah berusia 6 bulan," katanya.

Lebih lanjut, Kades mengatakan, dirinya selama ini terus dibina dan dibimbing oleh Dinas Pertanian Psp melalui Penyuluh Pertanian Lapangan, Emiliani Br Pakpahan. Dari sana, dirinya diajari bagaimana bercocok tanam ubi yang baik. Baik itu cara menggarap, merawat, memupuk, maupun menjaga tanamannya.

"Selama ini, kendala yang kita temukan hanya dari hama berupa babi hutan yang kerap merusak tanaman ubi. Selain itu tidak ada. Untuk itu, dalam waktu dekat kita akan memasang pagar keliling di sekitar kebun ubi kita," papar Abdurrahim yang saat ini sudah menyerap 20 orang pria dewasa setiap kali di lakukan pembersihan lahan. (sabar)

VIDEO