× Redaksi Pedoman Media Siber Privacy Policy
Beranda investigasi Proyek Peningkatan Jalan Pinggap-Pengaturan Terkesan Janggal dan Dikerjakan Tidak Tepat Sasaran

Proyek Peningkatan Jalan Pinggap-Pengaturan Terkesan Janggal dan Dikerjakan Tidak Tepat Sasaran

1395
SHARE
Proyek Peningkatan Jalan Pinggap-Pengaturan Terkesan Janggal dan Dikerjakan Tidak Tepat Sasaran

Papan nama proyek Peningkatan Jalan Pinggap-Pengaturan.

Muba, sidaknews.com - Sejumlah faktor tidak lazim terlihat dalam Pengerjaan Proyek Cor Beton Peningkatan ruas Jalan Pinggap-Pengaturan. Proyek bernilai Rp 4,9 miliar pada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).

Sementara sumber pembiayaan proyek berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) yang dikucurkan melalui Bantuan Keuangan Provinsi Sumsel tahun anggaran 2020. Dan seperti tertulis pada plank proyek yang dipasang dilokasi, lokasi proyek berada di Kecamatan Babat Toman, sementara Desa Pinggap maupun Desa Pengaturan merupakan Desa yang termasuk dalam Kecamatan Batang Hari Leko (BHL).

Kondisi tersebut terlihat janggal dan menimbulkan tanda tanya dan kecurigaan disejumlah kalangan. Kecurigaan tersebut cukup beralasan, apalagi ketika terlihat tidak adanya besi behel saat dilakukan pengecoran oleh kontraktor CV.Panca Jaya Perkasa yang merupakan kontraktor pelaksana proyek tersebut.

Sejumlah kejanggalan yang terlihat, rincian kegiatan yang tertera dalam plank proyek yang terpasang dilokasi proyek senilai Rp 4.9 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) Bantuan Keuangan Provinsi Sumsel tersebut berada di Kecamatan Babat Toman.

Sementara proyek yang mempunyai waktu pengerjaan 90 hari kalender dan dikerjakan oleh PT Panca Jaya Perkasa tersebut berada dalam Kecamatan Batang Hari Leko, bukan Babat Toman Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan.

"Sepertinya ada yang tak beres dengan proyek ini. Lokasinya Kecamatan Babat Toman, sementara Desa Pinggap dan Pengaturan berada di wilayah Kecamatan Batang Hari Leko (BHL),"kata Wandi warga setempat yang dijumpai tidak jauh dari lokasi proyek tersebut, belum lama ini.

Ia menambahkan, pihaknya merasa curiga telah terjadi kongkalikong antara PUPR Muba dengan kontraktor atau pihak lain untuk memindahkan lokasi proyek dari Kecamatan Babat Toman ke BHL untuk kepentingan tertentu. Untuk itu ia meminta agar Aparat Penegak Hukum agar memeriksa proyek tersebut. Karena jika ternyata kecurigaan mereka terhadap kejanggalan proyek tersebut benar adanya berarti telah terjadi suatu tindakan pelanggaran hukum dan pelakunya harus ditangkap dan dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

Patut diduga, lemahnya pengawasan dari Dinas PUPR Musi Banyuasin, telah mengakibatkan proyek cor jalan tanpa besi behel senilai 4.9 miliar tersebut dikerjakan seadanya. Pekerja terlihat hanya menimbun bagian jalan yang berlobang dengan batu split alakadarnya. Sementara pondasi ditimbun menggunakan agregat bercampur tanah yang bisa dipastikan tidak memiliki daya lekat yang baik sehingga batu koral sangat mudah terlepas dari semen.

Kejanggalan lain yang terlihat, lanjut dia, volume pekerjaan yang terkesan tidak memenuhi ukuran sepanjang 1500 meter seperti tertera dalam plank proyek.

"Coba perhatikan panjang jalan coran ini, saya rasa hanya sekitar 1000 meter lebih saja nggak nyampe 1500 meter," ujarnya.

Pemasangan batu agregat yang dilakukan tanpa alat juga semakin memperkuat kesan asal asalan. Setelah batu turun dari mobil, pekerja hanya menginjak-injak untuk memadatkan tanpa menggunakan Vibrator.

Sala satu orang yang mengaku pengawas lapangan PT Panca Putra Jaya Perkasa mengatakan, sebelumnya jalan tersebut sudah dipadatkan dengan kompek. Sementara batu yang dihamparkan saat itu hanya tambahan karena setelah dikompek turun hujan dan jalan dilewati truk pengangkut kayu dan sawit.

" Akhirnya kami yang jadi korban, setiap pagi harus ngisi lobang dengan batu tambahan kerena kalau malam dilewati mobil pengangkut sawit dan kayu," ungkapnya.

Terkait tidak adanya besi behel pengikat dalam coran mengaku juga bingung sistem kerja Cor Beton jalan tersebut yang tidak memakai tulang besi.

"Itulah saya anehnya kenapa tidak pakai besi dan stik dalam coran, walaupun bagian atasnya kita siram aspal. Saya tidak tahu kalau salah judul nanti saya tanya dulu, mungkin salah tulis," ujarnya dengan raut wajah sedikit bingung.

Sementara itu Suandi selaku Pptk saat di konfirmasi di ruang kerjanya mengatakan"Pekrjaan corbeton itu sudah sesuai standar dan kalau K250 memang tidak memakai besi,untuk Papan proyeknya mungkin keliru ada yang sala Cetak" Tutup Suandi. (Awam)