× Redaksi Pedoman Media Siber Privacy Policy
Beranda Kampar Sekda Kampar: Berharap Warga Pedesaan Tetap Mempertahankan Lahan Jangan Cepat Dijual

Sekda Kampar: Berharap Warga Pedesaan Tetap Mempertahankan Lahan Jangan Cepat Dijual

219
SHARE
Sekda Kampar: Berharap Warga Pedesaan Tetap Mempertahankan Lahan Jangan Cepat Dijual

Sekretaris Daerah Kabupaten Kampar Drs Yusri,M.Si saat melakukan Panen Padi dalam program Pendampingan Pengembangan Kawasan Padi di Desa Empat Balai Kecamatan Kuok, rabu 22/7/20).

Kampar, sidaknews.com –  Bupati Kampar yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Kampar Drs Yusri,M.Si menyampaikan dengan situasi melemahnya ekonomi saat ini apalagi terkait Pandemi Covid-19, akan tetapi seluruh masyarakat pedesaan diharapkan untuk tetap mempertahankan lahan jangan terlalu cepat menjualnya.

Hal ini disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Kampar Drs Yusri,M.Si saat melakukan Panen Padi dalam program Pendampingan Pengembangan Kawasan Padi di Desa Empat Balai Kecamatan Kuok, rabu (22/7/20).

Sekali lagi, jangan lahan dijadikan rumah. Karena Provinsi Riau khususnya Kampar minus lebih kurang 600 ton per tahun beras. Untuk itu kepada masyarakat yang saat ini masih memiliki lahan persawaan diharapkan untuk kembali membukanya. Yakinlah bahwa pemerintah akan terus berupaya memantau untuk pelaksanannya seperti halnya yang dilakukan di desa empat balai saat ini.

Dimana dengan program Pendampingan Pengembangan Kawasan Padi yang ditanam pada tanggal 13 April 2020 dengan sistem Jajar Legowo pada kelompok Batang Piaman, dalam waktu lebih kurang tiga bulan sudah bisa panen. Selain waktu singkat pasti hasil panen juga lebih jauh yang seperti biasanya.

Sementara itu kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) provinsi Riau Dr Salwati, SP.M.Si yang sempat hadir pada kesempatan tersebut menyampaikan, bahwa melalui Pendampingan Pengembangan Kawasan Padi insyaallah hasil panen jauh lebih meningkat.
Dimana system kerja program ini menerapkan sistem Teknologi Jajar Legowo dengan jajak tanam 25×12,5 x50, dimana biasanya masyarakat melaksanakan dengan siatem 25×25.

Selain itu dalam pendampingan dilakukan dengan Varites Unggul baru dan Benih bermutu, kemudian dengan Aplikasi Pupuk Hayati, Umur bibit 18 setelah disemai, Aplikasi pupuk organik 1,5 ton/ha, Aplikasi biodekomposer, Ssiten tanam jajar legowo, Aplikasi pupuk urea 200 kg/ha serta Pengendalian hama penyakit terpadu.

Dengan system ini, biasanya masyarakat panen padi seluas 1 ha hanya panen lebih kurang 4,2 ton, akan tetapi dengan sistem yang kita adopsi ini, insyaallah kedepan hasil panen bisa mencapai lebih kurang 6 sampai 7 ton/ha.”terang Salwati”. (Rls/Rahmad)

 

VIDEO