× Redaksi Pedoman Media Siber Privacy Policy
Beranda daerah Setelah Dijelaskan Alternatif Ke-3, Pasutri Asal Jampea Memilih Untuk Dirapid

Setelah Dijelaskan Alternatif Ke-3, Pasutri Asal Jampea Memilih Untuk Dirapid

473
SHARE
Setelah Dijelaskan Alternatif Ke-3, Pasutri Asal Jampea Memilih Untuk Dirapid

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Nagekeo, Muhayan Amir.

NAGEKEO, sidaknews.com - Sebanyak 16 orang penumpang Kapal Motor (KM) Sangke Palangga asal Pelabuhan Benteng Pulau Jampea Sulawesi Selatan, tidak dibekali surat keterangan hasil rapid test, sehingga ditindak lanjut oleh satgas bidang pecegahan dan penanganan covid-19 Kabupaten Nagekeo dari Puskesmas Danga di Pelabuhan Marapokot, sabtu (21/11/2020).

Dari 16 orang yang tidak mengantongi surat keterangan hasil rapid ataupun swab tersebut, 2 orang diantaranya merupakan pasangan suami istri (pasutri) yang menolak untuk dilakukan rapid test, sedangkan 14 orang sisanya bersedia.

Pasutri tersebut beralasan ketika satgas covid-19 meminta surat keterangan hasil rapid yang dikeluarkan dari satgas covid-19 Pulau Jampea dan keduanya mengaku tidak diberi surat kesehatan serta tidak pernah melakukan pemeriksaan kesehatan guna kepetingan perjalanan luar Daerah.

Diketahui sehingga adanya penolakan pemeriksaan rapid test oleh Pasutri asal Pulau Jampea, pasalnya pasutri tersebut menyatakan bahwa keduanya tidak sakit dan tidak perlu dibekali surat keterangan kesehatan dari satgas covid-19 ataupun pihak Puskesmas Pulau Jampea.

Menanggapi pernyataan itu Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Nagekeo Muhayan Amir mengatakan, sebelumnya pada pasutri asal Pulau Jampea telah diberi 3 alternatif, namun setelah dijelaskan tentang poin dari alternatif ke-3 yakni jika tetap bersikeras tidak mau di rapid maka harus dipulangkan ke Daerah asal. barulah pasutri tersbut bersedia untuk menjalani pemeriksaan rapid test.

Pilihan pada alternatif ke-2, lanjut Muhayan, menjelaskan yaitu jika tidak mengantongi surat keterangan sehat hasil rapid atapun swab maka satgas covid-19 di pelabuhan Marapokot berhak melakukan rapid test.

"Ketika kita hendak memastikan di alternatif ke-3, yaitu harus pulang ke Daerah nya pasutri akhirnya bersedia untuk di rapid dan alternatif ke-1 (pertama) ia harus menunjukan hasil rapid dari Daerah asal yang menyatakan sehat. Terus yang alternatif ke-2 apabila, ia tidak bisa menujukan hasil rapid ia harus di rapid disini dan alternatif ke-3 tidak mau juga atau dengan alasan apapun ia harus di pulangkan," jelas Muhayan. (M. Yasin)