× Redaksi Pedoman Media Siber Privacy Policy
Beranda babel Tanggapan Ketum DPD IMM Babel Soal Munculnya Kelompok yang Mengaku Kerajaan

Tanggapan Ketum DPD IMM Babel Soal Munculnya Kelompok yang Mengaku Kerajaan

1517
SHARE
Tanggapan Ketum DPD IMM Babel Soal Munculnya Kelompok yang Mengaku Kerajaan

Ari Juliansyah Ketum DPD IMM Babel.

PANGKALPINANG, sidaknews.com - Baru-baru ini kita sempat dihebohkan dengan munculnya kelompok yang mengaku Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire.

Sebelumnya kita juga sempat di hebohkan dengan Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar dan Kerajaan Ubur-ubur.

Ari Juliansyah, Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengungkapkan bahwa kita sebagai pemuda Millenial dan Z Generation hidup di zaman 4.0 dapat mengambil sisi positif dalam menyikapi fenomena munculnya kerajaan kerajaan baru yang ada di Republik Indonesia, Selasa (21/1/2020).

"Secara konstitusional jelas kehadiran kerajaan ini menyalahi sistem saat ini yang sedang berjalan yakni sistem bernegara dari bangsa kita yang berbentuk Republik. Sesuatu hal yang sangat memilukan bagi kita setiap warga negara jika ada sebuah negara (kerajaan baru) berada didalam tubuh negara Indonesia, yang mana Indonesia telah di kukuhkan ketika bangsa kita telah berjanji dan bersepakat untuk merdeka dengan nama Republik Indonesia, PANCASILA sebagai Darul Ahdi Wa Syahadah tentunya," ujar Ari.

Lain halnya dengan keraton Yogyakarta yang telah di sepakati sebagai daerah istimewa untuk mengurusi pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta dalam bentuk kesultanan, dengan tetap menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

orang yang mengaku sebagai raja dan ratu di keraton agung sejagat.

Secara historis hak istimewa itu sebagai penghargaan atas jasa kesultanan Yogyakarta yang telah mendukung kemerdekaan bangsa kita kala itu. Sri Sultan Hamengkubuwono IX juga ikut serta dalam andil besarnya untuk menjaga kemerdekaan yang telah di ikrarkan melalui proklamasi dari agresi militer Belanda yang berjilid.

Adapula kerajaan-kerajaan lama yang saat ini keturunannya masih diberikan hak kerajaan untuk tetap ada, tentu bertujuan untuk menjaga budaya setempat agar tetap dilestarikan. Namun, tidak se-istimewa Kesultanan Yogyakarta yang diberikan hak lebih dalam mengurusi pemerintah Provinsi.

Ada hal menarik yang dapat kita cermati bersama perihal motif didirikannya kelompok bernuansa kerajaan baru tersebut, sebagian besar mengakui sebagai kerajaan di atas semua negara dan lembaga dunia. Selain dari pada iming-iming, motif lain tentang ketertarikan warga untuk ikut sebagai pengikut kerajaan-kerajaan baru perlu juga kita telusuri.

Spekulasinya, ketertarikan mereka untuk bergabung karena adanya sebuah kegelisahan dan rasa pesimis bahwa negara kita saat ini dianggap tidak membawa kesejahteraan.

Mereka beranggapan seakan kerajaan-kerajaan baru yang dibumbui cerita fiktif itu menjadi sumber kehidupan baru bagi mereka untuk damai, sejahtera dan makmur. Padahal sejatinya itu bukanlah sesuatu hal yang menjanjikan, itu hanyalah sebuah fantasi berlebihan dari beberapa orang saja.

Sudah menjadi barang umum bahwa rasa pesimis itu selalu saja di lampiaskan dengan pengharapan akan sesuatu hal. Kekurangan demi kekurangan bangsa kita baik aspek ekonomi dan sosial menjadi rasa pesimis, pada akhirnya rasa itu bermuara pada pengharapan akan hadirnya sang ratu adil, satrio piningit, harta karun Soekarno dan lain-lain yang di anggap menjadi pengharapan masa depan yang instan dapat memajukan bangsa kita.

Rasa pesimis itu dapat menghilangkan nalar sehat untuk bersaing dalam kemajuan zaman yang semakin menuntut kita untuk terus cepat, siap dan sigap dalam mengahadapinya. Individu bahkan negara manapun tidak akan mampu menjadi yang terdepan tanpa adanya daya saing yang tinggi, semangat inovasi dan kolaborasi.

Telah menjadi tugas pemerintah dan kita bersama untuk menumbuhkan rasa optimis bahwa Negara kita mampu mensejahterakan setiap warganya. Pembuktian-pembuktian dalam berbagai aspek seperti ekonomi, kesehatan dan pendidikan itu perlu di tunjukkan menjadi secercah harapan bahwa kita bisa mewujudkan cita-cita PANCASILA dan UUD 1945.

Di era kekinian sudah tidak zamannya lagi untuk berkelompok yang menutup diri dari pesatnya arus globalisasi, saat ini zamannya kolaborasi dan inovasi untuk bersama meningkatkan daya saing atas perkembangan zaman yang kian cepat. Bagaimana mungkin sistem nilai yang sedang terbangun kita rusak dengan penularan rasa pesimis sebagai muara dari kegelisahan-kegelisahan itu.

Kita lupa satu hal bahwa kekuatan pikiran memiliki energi yang tinggi, tentu saja kekuatan pikiran itu di arahkan kepada rasa optimis menjadi individu yang terdepan menangkap segala macam ancaman modern untuk di jadikan peluang. Berinovasi dan berkolaborasilah yang apik dalam sistem nilai yang sedang berjalan ini, sistem yang terbangun tidak pernah salah sebab kesalahan tidak terletak pada sesuatu hal yang tak berwujud, kesalahan terletak pada diri kita dan mereka para pemangku kebijakan yang berwujud ini, Manusia-manusianya.

Tataran sebuah sistem terbentuk karena benturan-benturan setiap momentum yang telah terjadi, menyalahkan sebuah sistem yang terbangun sama halnya berusaha mengganti rupa sebuah danau dengan meniadakan hujan. Bukan sekedar merugikan dan konyol, sebab setiap momentum besar yang telah terjadi seperti sumpah pemuda, proklamasi, kesepakatan dan perjanjian yang melahirkan PANCASILA bagian dari skenario Tuhan untuk Republik ini", tutupnya. (Fajri)

VIDEO