× Redaksi Pedoman Media Siber Privacy Policy
Beranda tebagsel Tidak Miliki Uang Rp300 Ribu, Nasib Anak SD Ini Terancam Putus Sekolah

Tidak Miliki Uang Rp300 Ribu, Nasib Anak SD Ini Terancam Putus Sekolah

873
SHARE
Tidak Miliki Uang Rp300 Ribu, Nasib Anak SD Ini Terancam Putus Sekolah

Pendiri Yayasan Burangir Timbul Simanungkalit ketika memberikan bantuan kepada Indah yang batal pindah diduga karena tidak memiliki uang.

Sidimpuan, sidaknews.com - Sungguh menyedihkan, karena tidak mempunyai uang sebesar Rp 300 Ribu, anak SD di bangku Kls 1 ini terancam putus sekolah.

Hal inilah yang dirasakan oleh Nova Sari (37 thn) selaku orang tua Indah Dwi Safana Kls 1 SD Inpres 200220 Ujung Padang Kecamatan Padangsidimpuan Selatan.

Kepada Sidaknews Nova Sari menerangkan, Bermula saat saya hendak mengurus surat pindah anak saya (Indah Dwi Safana) melalui orang tua saya (kakek Indah Dwi Safana) ke SDN 200220 oleh oknum sekolah mengatakan untuk kepengurusan surat pindah sejumlah Rp 300 Rb sebagai uang tinta, sebut Nova.

"Karena keadaan ekonomi, kami terpaksa pindah - pindah untuk mencari kehidupan. Saat itu kami pindah dari pekan baru ke Sidimpuan tinggal bersama orang tua, kebetulan bulan Juni 2019 tahun ajaran baru saya daftarkan Indah di SDN 200220 Kls 1, baru berjalan dua bulan saya mendapat kerja untuk berjualan sate di Dayun Siak (Riau), untuk mengadu nasib akhirnya kami berangkat ke Dayun Siak bersama keempat anak saya,"ungkap Nova.

Lanjutnya, Karena kami sudah berangkat ke Dayun Siak, makananya saya diwakili sama orang tua (kakek Indah) untuk mengurus surat pindah Indah, akan tetapi mengingat pendapatan orang tua saya hanya pedagang keripik sambal yang keuntungan hanya dapat untuk kebutuhan sehari-hari, kakek Indah tidak bisa memenuhi apa yang diharapkan oleh oknum Kepsek tersebut, Bebe Nova.

Tidak sampai disitu saja, Kakek Indah kembali untuk yang kedua kalinya menemui oknum Kepsek yang bersangkutan, akan tetapi oleh oknum Kepsek tetap berharap supaya ada uang tinta dari Rp 300 Rb menjadi Rp 200 Rb, ungkap Nova sambil mengatakan pendidikan dibuat seperti pedagang ada tawar menawar.

Selaku orang tua saya sangat menyayangkan sikap oknum kepsek, mengingat Indah anak saya sangat ingin sekali untuk melanjutkan pendidikan tingkat SD di Siak, keluh Nova.

"Saya sangat sedih melihat Indah yang merupakan anak bungsu dari empat bersaudara yang sampai saat ini belum bisa melanjutkan sekolahnya gara - gara surat pindahnya dari SDN 200220 belum dikeluarkan oleh Kepsek sekolah tersebut, apalagi sampai saat ini anak saya sudah empat bulan tidak bisa mencicipi dunia pendidikan," jelas Nova.

Mendengar kejadian yang dialami keluarga Nova Sari, Pendiri Yayasan Burangir ( Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak ) Timbul Simanungkalit langsung menemui Indah Dwi Safana Jaln. MGR Maradat GG. Sido Mulyo Kelurahan Ujung Padang Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Minggu (16/2/2020).

Sesuai pantauan awak media ini senyum polos Indah langsung terlihat ketika pendiri Yayasan Burangir Timbul Simanungkalit, mulai bicara dengan Indah. Didampingi ibunya (Nova), Indah mengaku ingin secepatnya bersekolah."Saya mau cepat sekolah pak,"ujar indah kepada Timbul. Sementara itu, menurut Nova, rencananya, Nova akan dipindahkan ke Dayun, Siak (Riau ).

"Indah tidak bisa pindah karena tidak punya "uang tinta" Rp 300 ribu rupiah,"tutur perempuan anak 4 itu.

Sementara itu, Timbul Simanungkalit mengatakan, dia datang ke tempat tersebut untuk memberikan sejumlah uang yang dibutuhkan untuk perpindahan Indah."Saya langsung berikan uang sebesar Rp300 ribu, sesuai dengan kebutuhan yang diminta dari sekolah,"imbuh Timbul.

Ironisnya lagi kata Timbul, kakek Indah, saat ini sedang berada di ruang ICU RSUD karena sakit jantung. Mereka kesulitan untuk membayar perobatan, karena kakek tersebut tidak punya kartu kepesertaan BPJS.

"Keluarga mereka saat ini sedang butuh uang, karena kakek Indah lagi dalam perawatan,"tandas Timbul.

Sementara di tempat terpisah, Anggota DPRD Kota Padangsidimpuan Irfan Harahap dari fraksi Demokrat menyayangkan akan sikap oknum Kepsek 200220 melakukan pungli di sekolah yang berakibat anak terancam putus sekolah.

"Kita akan segara menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) atas kasus yang dialami Indah Dwi Safana. Kita akan memanggil oknum Kepsek yang bersangkutan, Dinas pendidikan dan juga mengundang orang tua korban untuk mengklarifikasi atas kasus ini. Selain itu kita juga harus menjalankan program pemerintah untuk Wajib Belajar, himbau Irfan di ruangan Wakil Ketua I DPRD Padangsidimpuan, Senin (17/2).

Hingga berita di lansir kepala Sekolah SD Inpres 200220 Ujung Padang Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan belum mau memberikan tanggapan dan klarifikasi terkait Permasalahan ini. (MT)

VIDEO